Selasa, 09 April 2013

Sholat Tahyatul Masjid, Bagaimana Sholat Tahyatul Masjid yang dilakukan di Hari Jum'at?

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh,

Buya yang ana hormati ana mau tanya Sholat Tahiyatul Masjid yang dilakukan pada hari jumat kan disunnahkan 4 rakaat. kalau dikerjakan langsung 4 rakaat dengan satu salam, bolehkah tidak mengerjakan Tasyahud Awwal?
Rusdi Maryam - Harjamukti
Jawab :
Wa’alaikum Salam wr. wb

Sholat Tahiyatul Masjid adalah Sholat yang dilakukan oleh seseorang yang memasuki masjid berapa rokaatpun boleh. Hanya umumnya dengan rokaat 2 rokaat. Jika dilakukan dengan lebih dari 2 rokaat misalnya 4 rokaat juga boleh dan itu lebih bagus. Semakin banyak semakin baik. Di saat melakukan 4 rokaat dianjurkan agar tidak pakai Tasyahhud Awwal. Dan jika pakaipun tetap sah.
Yang harus iketauhi juga bahwa tidak ada anjuran khusus Tahiyatal Masjid di hari jumat dengan 4 rokaat. Kalau melakukan 4 rokaat boleh-boleh saja. Dan yang paling bagus di saat melakukan 4 rokaat adalah dengan 2 kali salam. Setiap 2 rokaat satu salam.

Hadits yang diriwayatkan oleh ibnu majah : أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي قبلها أربعا
Bahwa Nabi Muhammad Saw melakukan Sholat sebelumnya (maksudnya jum’atan) 4 rokaat. Riwayat ini bukan masalah Tahiyatul Masjid akan tetapi itu masalah Sholat Sunnah sebelum Jum’at. Masalah Sholat Sunnah Qobliyah jum’at telah kami bahas dengan panjang lebar dalam risalah kami "سنة قبلية الجمعة كما فهمها العلماء"

Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

4 Madzhab, Bolehkah Kita Mengikuti 4 Madzhab?

Assalamu 'Alaikum Wr. Wb

Salam sejahtera kepada Al Mukarom Buya Yahya, semoga Buya selalu dilindungi oleh Allah swt. dari segala macam keburukan. Saya ingin bertanya seputar ke 4 mazhab yaitu Madzhab Safi'i, Hanafi, Maliki dan Hambali. Yang sedang saya pertanyakan adalah bolehkah kita mengikuti ke 4 madzhab tersebut dalam menentukan hukum dalam suatu permasalahan, sedangkan pendapat mereka terkadang ada yang berbeda.
Wassalam* Selamet Riadi - Cirebon


Jawab :
Wa’alaikum Salam wr. wb
4 imam madzhab adalah panutan kita dalam urusan hukum dan kita sebagi pengikut atau orang yang taqlid boleh mengikuti siapa saja dari mereka asal benar cara mengambil dan mengikutinya. Dan itu semua perlu ilmu.
Akan tetapi untuk memudahkan kita dalam menjelaskan hukum tentang suatu permasalahan maka caranya dengan menekuni satu Madzhab. Baru akan menelaah kepada Madzhab-Madzhab lainjika sudah matang dalam 1 madzhab.
Belajar Madzhab yang berbeda-beda amat merepotkan kita untuk menghafal dan mengingatnya.
Dan seandainya kita melakukan Solat Dzuhur dengan madzhab Syafi’i, Ashar dengan Madzhab Maliki, maghrib dengan Madzhab Hambali kemudian isya dengan Madzhab Hanafi,seperti ini sah - sah saja. Akan tetapi siapa yang bisa seperti ini.mTentu orang yang alim dengan 4 Madzhab.
Intinya kita bisa ikut salah satu dari 4 Madzhab tersebut asalkan dengan ilmu atau karena petunjuk dari guru yang mengajari kita. Kepada siapapun kita ikut kita tetap muqollid (orang yang bertaqlid) hanya cara bertaqlid saja yang harus kita perhatikan yaitu tatakrama dengan cara mengikuti pembimbing dan guru.

Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Bagaimana Cara Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Sedangkan Jarak Kita Berjauhan?

Assalamu'alaikum wr.wb..

Buya yang saya hormati. Semoga buya sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan dan keistiqomahan oleh Allah dalam berdakwah. Buya, saya bekerja di luar kota, ibu dan bapak saya berada di kampung. bagaimana cara saya berbakti kepada mereka, sedangkan saya jauh dari mereka dan tidak bisa bertemu langsung, mohon penjelasan syukron - Rijal Mahara Dara - Majalengka


Jawab :
Wa’ailaikum Salam wr. wb.
Berbakti kepada orang tua bukanlah basa-basi sosial dengan prilaku dan pelayanan belaka. Akan tetapi hakekat berbakti adalah hati yang benar-benar mencintai orang tua. Itulah yang akan menghatarkan anak untuk rela mendahulukan kepentingan orang tua dari kepentingan dirinya sendiri. Rela berkorban untuk orang tua.Tidak rela orang tua sakit dan susah.
Jika rasa ini ada di hati, jarak tidaklah penting .Kalau jarak anda jauh, hati anda secara otomatis akan menuntun anda berbakti dengan lahir anda mulai dari anda sering bertanya tentang keadaanya ,mencukupi kebutuhannya,rindu untuk melihat wajahnya dll .Biarpun anda tidak berdekatan.
Jika rasa ini tidak ada biarpun anda mengucap kalimat barbakti ribuan kali ,ucapan itu semua tidak ada artinya.tanyakan hati kecilmu! 


 Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

Istinja', Bagaimana Petunjuk Mengenai Istinja'

Assalamu ‘Alaikum wr. Wb.

Buya, Al Faqir mohon petunjuk mengenai Istinja' apakah sah hanya dengan mengguyur dengan air saja sebanyak-banyaknya , ataukah harus menggunakan tangan atau alat lainnya untuk beristinja' ? Muhammad Zainuddin - Sumber


Jawab :
Wa 'Alaikumussalam wr wb. Aamiin Allahumma Aamiin.

Di dalam madzhab Syafi’i beristinjak tidak harus digosok atau dipijat di tempat buang air tersebut. Akan tetapi yang wajib adalah terbuktinya kebersihan di tempat tersebut. Maka jika anda menduga tidak bisa bersih hanya dengan diguyur maka menggosok dengan tangan atau dengan yang lainnya adalah menjadi wajib. Jika tidak bersih maka menjadi tidak suci.

Wallahu A'lam Bishshowaab. 


Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

Nikah, Bagaimana Jika Pernikahan Berpisah Karena Jarak(bukan bercerai) Apakah Harus Menikah Lagi?

Assalamu‘Alaikum wr. Wb.
 

Assalamu'alaikum Wr Wb
Buya saya ingin bertanya tentang nikah, misal fulan kawin dengan fulanah, dan setelah dapat tiga bulan mereka berpisah (bukan bercerai). Fulan meninggalkan dia karena untuk mencari materi (ekonomi) dan setelah dapat 9 bulan, fulan kembali kepada istrinya, lalu mereka mendengar bahwasannya mereka harus kawin lagi dikarenakan terlalu sekejap mereka bersama, apakah itu benar?
Abdulloh – Cirebon – 08998899xxx


Waalaikumsalam wr wb
Jalinan pernikahan yang sudah sah tidak akan terurai biarpun belum pernah berhubungan intim lalu berpisah dalam waktu yang lama. Sesuai yang di tanyakan, Setelah sang suami meninggalkan istri untuk mencari nafkah lalu kembali kepada sang istri maka tidak perlu melakukan akad nikah lagi. Karena pernikahanya memang sudah sah dan tidak pernah terjadi perceraian. Himbauan kami bagi pasutri agar mementingkan kebersamaan jangan sampai meninggalkan istri atau sebaliknya hanya mementingkan materi sehingga jalinan rumah tangganya terabaikan. Dalam rumah tangga perlu kebersamaan dalam mewujudkan keindahan, kebersamaan belajar agama, kebersamaan dalam ibadah dan juga agar terhindar dari fitnah dan bisikan-bisikan syetan dan hawa nafsu.


Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

Bid'ah, Apa yang Harus Dilakukan Jika Kita Mendapati Seseorang yang Selalu Membid'ahkan?

Assalamualaikum Wr Wb.

Apa yang harus kita lakukan jika ada orang yang selalu membid’ahkan terhadap amalan amalan yang sering kita lakukan?
Maulana_Cirebon_08383226xxx 


Wa'alaikumsalam Wr Wb.
Seseorang tidak boleh merasa suci dan paling baik dan benar. Sikap kita jika ada orang yang membid’ahkan kita adalah koreksi diri karena bisa saja apa dikatakan orang itu benar. Akan tetapi yang harus lebih koreksi diri adalah di saat kita ingin membid’ahkan orang lain. Karena di saat kita membid’ahkan itu artinya kita merasa lebih benar dari orang lain. Jika kita sudah koreksi diri disaat dibid’ahkan dan ternyata kita salah kita harus segera insyaf dan jika kita dalam kondisi benar berdasarkan dalil dan hujjahnya menurut para ulama maka penilaian baru kita diarahkan kepada orang yang membid’ahkan. Sudahkah dia bertanya kepada yang dibid’ahkan (tentunya kepada ulamanya orang yang dibid’ahkan) ? jika belum, maka orang yang mudah membid’ahkan itu adalah ahli fitnah sekaligus ahli bid’ah. Ada banyak amalan yang dilakukan kaum muslimin di cirebon oleh sekelompok kecil umat Islam dikatakan bid’ah namun mereka yang membid’ahkan tidak pernah bertanya langsung kepada yang bersangkutan, itulah ahli fitnah pemecah belah umat. 



Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah

Jatuh Cinta, Sebagai Remaja Bagaimana Hukumnya Mencintai Lawan Jenis yang Belum Mahromnya?

BBM : Bila Buya Menjawab

Assalamu’alaikum Buya saya gina dari SMAN 1 Sumber mau bertanya. Menginjak remaja sudah tidak asing lagi jika kita mengenal sosok laki-laki. Bagaimana hukumnya menyukai lawan jenis yang belum mahromnya ? dan bagaimana cara untuk menghidari agar kita tidak terjerumus kepada zina ? Syukron Buya

Gina Ayu, Sumber- 085-224-533-XXX

Jawaban :
Wa’alikumsalam Wr.WB. Saudariku Gina Ayu. Rasa cinta dan suka adalah karunia dari Allah. Allah telah menjadikan ada daya tarik diantara lawan jenis bahkan Allah juga memerintahkan menuntun bagaimana agar diantara lawan jenis yang saling membutuhkan itu bisa saling memenuhi kebutuhannya. Artinya cinta lawan jenis itu normal dan karunia dari Allah SWT. Akan tetapi yang akan menjadi masalah adalah jika kecenderungan, kebutuhan dan cinta kepada lawan jenis yang merupakan karunia dari Allah itu diumbar begitu saja tanpa dikontrol oleh syariat. Maka yang terjadi adalah kesalahan, kepalsuan dalam mengabdikan dan cinta. Cara baik untuk menyikapi cinta dan kecenderungan yang ada dalam hati adalah dengan :
1. Semakin dekat kepada Allah agar tidak terpeleset didalam perjalanannya didalam mengabdikan cintanya.
2. Senantiasa sadar bahwa setiap orang ingin bahagia dengan cinta. Dan hanya Allahlah pencipta kebahagiaan maka tidak ada kebahagiaan dalam cinta yang sesungguhnya jika dibarengi dengan pelanggaran kepada sang pencipta cinta Allah SWT.
3. Waspadalah dengan hawa nafsu dan syetan yang sering menyamar sebagai cinta hingga banyaklah orang terjerumus dalam zina karena hawa nafsu dan bukan karena cinta yg sesungguhnya.
4. Bepikir prakstis dan cerdas, sudahkah tiba waktunya anda untuk mencintai sebab yang menuruti cinta sebelum waktunya ia akan tersiksa dan akan mudah terjerumus dalam hawa nafsu semisal yang bermain cinta pada saat yang masih jauh dari masa pernikahan dan sebelum pernikahan.
5. Yakin bahwa kecenderungan lawan jenis yang mengajak kepada kemaksiatan adalah ajakan syetan dan hawa nafsu dan bukan cinta.
6. Mintalah perlindungan dari Allah agar di jauhkan dari zina. 



Wallahu a'lambishshowab.

Untuk bertanya silahkan ketik: Nama#Kota#Pertanyaan kirim ke 082335404145, pertanyaan akan dijawab dan dipostingkan di FB serta di harian kabar cirebon pada hari jum'at.

By: TIM Dakwah Al-Bahjah


Muslimah